Komitmen ULM dalam Pengelolaan Sampah Lewat Asta Peduli Sampah Nasional 2025

Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menjadi tuan rumah kegiatan Asta Kampus dan Sekolah Aksi Peduli Sampah Nasional yang digelar di Auditorium ULM pada Sabtu (15/3) lalu. Rangkaian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang berlangsung pada Februari hingga Maret 2025 ini merupakan kolaborasi lintas sektor antara tiga kementerian dan institusi pendidikan sekaligus menjadi momentum penguatan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Bertajuk “Gerakan Sadar Sampah”, kegiatan ini diikuti oleh ribuan pelajar SD, SMP, SMA, serta mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Adapun tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Di samping itu, Asta 2025 diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara berbagai pihak dalam merancang strategi pengelolaan sampah yang efektif, serta mendorong inovasi berbasis riset agar sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Berbagai fakultas di ULM turut berpartisipasi dengan memamerkan pengembangan riset dan teknologi untuk mengatasi permasalahan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah dan sumber daya alam.

Wujud nyata dari upaya tersebut terlihat dari berbagai booth yang menampilkan inovasi berdasarkan riset dan teknologi. Fakultas Teknik ULM, misalnya, menghadirkan Wasaka Team dengan mobil hemat energi, serta Reverse Vending Machine (RVM) yang dapat mengkonversi sampah plastik menjadi pulsa. Kemudian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) turut berperan dengan kampanye pendidikan sadar lingkungan.

Tak ketinggalan, Unit Penunjang Akademik Lingkungan Lahan Basah (UPA LLB) menawarkan strategi pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan. Ada pun Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ULM turut memperkenalkan program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah,. Sementara itu, Materials and Membranes Research Group (M2Reg) memamerkan inovasi material dan teknologi membran untuk pengolahan air gambut dan lahan basah. Melalui berbagai terobosan tersebut, Asta 2025 menjadi wadah bagi akademisi dan mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan.

Sejumlah pejabat nasional yang turut hadir di antaranya Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Atip Latipulhayat, hingga Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan. Kemudian hadir pula Menteri Negara Lingkungan Hidup era Kabinet Indonesia Bersatu II, Gusti Muhammad Hatta, bersama perwakilan pemerintah daerah seperti Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR dan Ananda.

Rektor ULM, Ahmad Alim Bachri, menegaskan peran ULM dalam mendukung penelitian dan inovasi pengelolaan sampah sebagai bentuk kontribusi akademisi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Ia melanjutkan bahwa sampah dapat menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan baik. Tetapi, di sisi lain, dengan pendekatan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber kesejahteraan. “Sampah harus diubah menjadi sumber keberkahan, bukan sumber bencana,” ujarnya saat membuka sambutan pada Sabtu (15/3).

Wakil Menteri Kemendikdasmen, Atip Latipulhayat, menyoroti pentingnya edukasi sejak dini di institusi pendidikan dalam membangun kesadaran lingkungan. “Kami mencanangkan gerakan sekolah bersih, bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai kebiasaan nyata di sekolah-sekolah,” ucapnya saat penyampaian arahan pada Sabtu (15/3).

Senada dengan Atip, Fauzan selaku Wakil Menteri Kemendiktisaintek menekankan peran kampus sebagai motor penggerak dalam menyelesaikan masalah lingkungan. Menurutnya, universitas memiliki peran strategis dalam menciptakan solusi polemik sampah berbasis riset. “Kampus harus mengambil bagian dalam mengatasi persoalan sampah. Ini adalah sinergi strategis yang harus terus dilakukan,” ungkapnya pada Sabtu (15/3).

Sebagai wujud konkret dari kolaborasi lintas sektor, seremonial juga diwarnai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara KLH/BPLH dengan Kemendiktisaintek. Penandatanganan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu, dilakukan pengukuhan kader lingkungan sebanyak delapan orang dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang dilakukan secara simbolis dengan pemakaian rompi.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama menteri, di mana mahasiswa turut menyuarakan keresahan mereka terkait persoalan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan. Rita Usman Herlina, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Jasmani FKIP ULM menyoroti permasalahan banjir di Kalimantan Selatan yang diperburuk oleh pengelolaan sampah yang kurang optimal. 

Menurutnya, meskipun berbagai program telah diluncurkan pemerintah, solusi yang benar-benar efektif masih belum terlihat. Ia mempertanyakan langkah konkret yang akan diambil untuk mengatasi bencana banjir di Kalimantan Selatan yang diperparah oleh tumpukan sampah rumah tangga. “Perlu lebih banyak upaya dalam penanganan sampah agar masalah ini tidak semakin memburuk,” ucapnya saat diwawancarai langsung, Sabtu (15/3).

Menanggapi hal ini, Hanif selaku Menteri Lingkungan Hidup mengutarakan bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah bukan hanya soal teknologi atau regulasi, melainkan juga pola pikir masyarakat. “Peradaban ramah lingkungan harus kita bangun. Sampah harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” pungkasnya pada Sabtu (15/3).

Ia juga mengharapkan usai Asta 2025 ini, kesadaran lingkungan dapat tumbuh lebih kuat di kalangan generasi muda. Lebih dari sekadar seremonial, peringatan hari peduli sampah nasional diharapkan mampu memicu perubahan nyata dalam pengelolaan sampah, baik di tingkat individu maupun institusi.

(KYE)