Beberapa tahun ke belakang, banjir mulai menggenangi area Universitas Lambung Mangkurat (ULM) setiap memasuki kuartal akhir tahun. Fenomena “kampus banjir” ini menimbulkan berbagai tanggapan dari sivitas akademika yang merasa terganggu ketika berkegiatan di area kampus. Terlepas dari kondisi geografisnya, ULM diharapkan dapat lebih efektif dalam mengatasi permasalahan lingkungan sehingga bisa meminimalisir dampak berulang di masa mendatang.
Banjir yang menggenangi wilayah ULM beberapa waktu belakangan menjadi sorotan oleh berbagai pihak internal kampus. Mahasiswi Ilmu Hukum 2023 ULM, Nazwa Aflianti, mengeluhkan banjir di ULM sebagai fenomena yang berulang. “Dari aku semester satu sampai sekarang, tidak pernah selesai permasalahannya,” jelasnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (13/11).
Fakultas Hukum yang letaknya di ujung makin mempersulit mobilisasi. Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam 10 menit, malah menjadi 20 menit. “Aku harus melewati genangan air dari gerbang. Apalagi kalau kelas pagi, air cukup tinggi untuk dilalui motor, ada ketakutan di pertengahan jalan mogok karena terendam,” ungkapnya.
Banjir juga mengundang permasalahan lain, yaitu keterbatasan lahan parkir akibat tergenang air. Akhmad Saufie, mahasiswa Administrasi Publik 2023 ULM mengungkapkan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) juga tak luput dari banjir. “Mahasiswa tidak dapat melewati jalanan dengan sepatu dan harus mencari parkir kendaraan jauh dari genangan,” keluhnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (13/11).
Sementara itu, Muhammad Khairuddin, mahasiswa Geografi 2022 ULM, berpendapat bahwa banjir juga mempengaruhi psikologis mahasiswa. “Banyak yang berpikir dua kali untuk datang ke kampus karena khawatir basah, takut motor mogok akibat terendam air. Setelah banjir surut, lingkungan kampus biasanya becek dan kotor, suasana belajar jadi kurang nyaman,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (13/11).
Terhambatnya produktivitas kegiatan akademik di kampus akibat banjir juga dirasakan oleh Dosen Geografi ULM, Rosalina Kumalawati. “Akses menuju kampus menjadi sulit, ruang perkuliahan dan laboratorium bisa tergenang, serta kegiatan penelitian atau administrasi menjadi terhambat,” ungkapnya saat diwawancarai secara daring, Jumat (14/11).
Lebih lanjut, Rosalina menjelaskan ULM yang terletak di Banjarmasin berada di daerah dataran rendah dengan karakter tanah cenderung rawa dan memiliki daya serap air rendah. “Kombinasi antara topografi rendah, curah hujan intens, serta kemungkinan sedimentasi di saluran air menjadi faktor utama penyebab banjir di kawasan kampus,” tuturnya.
Dosen Prodi Administrasi Publik ULM Nur Iman Ridwan berpendapat faktor penyebab banjir di ULM disebabkan letak ULM yang berada pada dataran rendah serta faktor alam. “Kondisi genangan yang melanda ULM saat ini berkaitan dengan letak kampus yang memang berada di dataran rendah dan terjadinya air pasang,” jelasnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (13/11).
Kepala Biro Umum dan Keuangan ULM, Akhmad Iskandar menjelaskan ULM telah berupaya menanggulangi dampak banjir dengan mengizinkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk dijadikan embung. Ia menegaskan, bahwa masyarakat perlu memahami sistem pengelolaan air berdasarkan karakteristik lingkungan yang ditempati. “Kita harus belajar hidup selaras dan mengelola air melalui infrastruktur yang adaptif terhadap karakteristik lahan basah,” tegasnya saat diwawancarai secara daring, Kamis (13/11).
Rosalina melihat ini sebagai salah satu perencanaan tata ruang dan pengelolaan air. “ULM harus memperbanyak RTH yang mampu menyerap air, memperbaiki sistem drainase, dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Selain itu, diperlukan juga edukasi dan keterlibatan sivitas akademika agar menjaga kebersihan air dan tidak membuang sampah sembarangan,” timpalnya.
Peristiwa banjir menahun ini mengingatkan kembali pada posisi ULM sebagai kampus di wilayah lahan basah, seperti yang diungkapkan oleh Khairuddin. “Ke depannya, ULM diharapkan mampu menanggulangi permasalahan banjir secara serius dan berkelanjutan. ULM mempunyai tanggung jawab moral dan akademik untuk menjadi contoh dalam pengelolaan lingkungan lahan basah yang baik,” pungkasnya.
Sejalan dengan Khairuddin, Nur Iman Ridwan turut mengutarakan harapannya agar ULM bisa menjadikan Model Wetland Campus dengan semaksimal mungkin seperti visi ULM yakni sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, dan berkarakter kewirausahaan yang unggul berbasis lingkungan lahan basah. “Sesuai visi ULM, harapannya ULM dapat menjadi barometer serta rujukan terkait isu yang berkaitan dengan lingkungan lahan basah baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus,” tutupnya.
(MAL, DAR)









Leave a Reply