Desa Pagatan Besar memasuki Juni, kebun Muhammad Bahrudin (29) tampak gersang setelah sebagian besar tanaman selesai dipanen. Bersama istrinya, Nisa (29), ia mengelola lahan milik pribadi seluas 10 borong. Masa kemarau dimanfaatkan untuk mengistirahatkan lahan sekaligus mempersiapkan musim tanam berikutnya. Keluarga kecil ini terus mempertahankan kebun sebagai sumber penghidupan di tengah tantangan musim dan perubahan kondisi ekonomi.
Bahrudin telah menggarap kebunnya selama tujuh tahun. Ia bertanam cabai, timun, tomat, dan melon. Sebelum mantap beralih profesi, ia pernah bekerja sebagai nelayan. Ia, menilai pekerjaan di laut memiliki risiko tinggi dengan hasil tangkapan yang tidak selalu menentu.
Pada tiga tahun pertama, Bahrudin beberapa kali mengalami kegagalan hingga terpaksa kembali melaut untuk mengumpulkan modal usaha. “Ternyata berhasil, meski sempat gagal juga karena kurang ilmu. Kalau tidak terjun langsung, kita tidak akan tahu. Jadi sambil berjalan, sambil belajar,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (20/6).
Dalam kesehariannya, Bahrudin memulai aktivitas di kebun sejak pukul 05.00 untuk membersihkan daun kering dan rumput liar. Pada sore hingga malam hari, ia kembali ke kebun untuk menyiram, memupuk, dan menyemprot tanaman. Seluruh pengelolaan kebun dilakukan bersama istrinya. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga mencari udang di pesisir pantai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Bahrudin, komoditas yang paling menguntungkan adalah cabai. Masa panennya berlangsung selama tiga bulan dengan frekuensi panen setiap lima hari sekali. Dalam sekali panen, hasil yang diperoleh dapat mencapai sekitar 70 kilogram.
Hasil panen tersebut dijual kepada pengepul dari Gunung Makmur, Takisung, dan Pelaihari yang datang langsung ke desa dengan harga berkisar Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram. Sementara itu, melon dijual dengan harga Rp8 ribu per kilogram.
Selain keluarga Bahrudin, Arbiah (40) juga menjadikan perkebunan sebagai sumber penghidupan utama. Bersama suaminya, Mar’i (40), yang memiliki usaha bengkel di depan rumah, ia mengelola lahan warisan orang tuanya yang telah digarap sejak lama.
Keduanya membudidayakan gambas dan cabai. Gambas dijual kepada warga sekitar dengan harga Rp10.000 per kilogram, sedangkan cabai masih dalam tahap pembibitan. Pendapatan dari hasil berkebun dan usaha bengkel menjadi modal untuk mempertahankan usaha tersebut.
Meski menghadapi tantangan berupa musim panas yang membuat tanaman membutuhkan perawatan lebih intensif, kedua keluarga tersebut tetap mempertahankan perkebunan sebagai sumber penghidupan utama.
ZEN, SWH, HAE, NFS









Leave a Reply