Bahuma di Pesisir, Cerita Petani Keluarga Desa Pagatan Besar

sumber foto LPM INTR-O FISIP ULM
sumber foto LPM INTR-O FISIP ULM
Waktu Baca: 4 menit

Di tengah beragam mata pencaharian warga Desa Pagatan Besar, bahuma masih menjadi salah satu cara masyarakat memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri. Bahuma merupakan kegiatan bercocok tanam padi yang telah dilakukan masyarakat secara turun-temurun sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Sebagian besar lahan merupakan milik pribadi yang diwariskan secara turun-temurun, sementara sebagian lainnya dikelola melalui sistem sewa dan bagi hasil. Bagi masyarakat desa, hasil panen padi lebih diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi keluarga, sedangkan sisanya baru dijual apabila hasil panen berlebih.

Warga desa biasanya menyimpan 60 blek per tahun untuk satu keluarga sehingga dapat mengurangi pengeluaran seperti membeli beras dari luar. “Kebutuhan sehari-hari atau makan keluarga lebih penting. Manfaat terbesar dari bahuma adalah keluarga tidak perlu khawatir soal kebutuhan beras. Selama hasil panen cukup, keluarga bisa makan dari panen tanpa harus membeli beras dari luar.” ujar Masri, warga Desa Pagatan Besar, dalam wawancara langsung, Sabtu (20/7). 

Aktivitas bahuma mengikuti siklus musim tanam tahunan yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Penyemaian benih biasanya dimulai pada Desember, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan lahan dan penanaman pada awal tahun hingga memasuki masa perawatan tanaman.

“Proses menyemai benih padi biasanya dimulai pada Desember, sedangkan masa panen jatuh pada Agustus,” ujar Masri. 

Proses bahuma di Desa Pagatan Besar melewati tahapan panjang yang membutuhkan ketelatenan tinggi, di mana sistem pengerjaannya disesuaikan dengan jenis padi yang ditanam, yaitu padi lokal dan padi unggul. Bagi warga setempat, pemahaman mendalam tentang setiap tahapan ini menentukan keberhasilan mereka dalam mengamankan cadangan beras keluarga untuk satu tahun ke depan.

Behuma Perlu Ketelatenan Petani

Ketua Kelompok Tani Desa Pagatan Besar, Muhammad Sabil Mubtadin, dalam wawancara langsung, Sabtu (20/6) memaparkan bahwa proses menanam padi lokal seperti varietas siam pandak dan siam arjuna memiliki beberapa tahap. 

Pertama, nugal atau membuat lubang tanam pada media semai awal. Kedua, dilanjutkan dengan maampak atau menyemai benih. Selanjutnya, saat bibit tumbuh, petani beralih ke melacak, yaitu memindahkan bibit padi ke tempat pemeliharaan sementara dan terakhir padi siap untuk ditanam. 

Sebaliknya, untuk varietas padi unggul, prosesnya dinilai jauh lebih praktis. Petani cukup melakukan penyemaian selama 15 hingga 20 hari. Setelah itu, bibit bisa langsung ditanam di sawah. Penggunaan padi unggul ini juga memangkas waktu tunggu karena dalam waktu sekitar 75 hari, padi sudah memasuki masa siap panen.

       Meski menjadi sumber utama ketahanan pangan keluarga, aktivitas bahuma di desa tetap menghadapi tantangan berat. Sabil mengungkapkan, kendala terbesar saat ini adalah buruknya akses menuju lahan persawahan sehingga menghambat mobilitas harian petani, baik saat membawa alat mesin pertanian ke sawah maupun ketika mengangkut hasil panen keluar dari lahan.    

Selain tantangan akses jalan, petani juga menghadapi ancaman hama, penyakit tanaman, serta kondisi cuaca pesisir yang tidak menentu. Ketergantungan pada kondisi alam membuat hasil pertanian rentan terganggu ketika cuaca tidak mendukung.

“Ada risiko gagal panen karena hama, penyakit tanaman, atau kondisi alam yang kurang mendukung. Makanya sawah harus rutin dipantau dan dirawat supaya tanaman tetap sehat,” sebut Masri.

           Tantangan lainnya datang dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang digunakan untuk mengoperasikan alat pertanian modern. “Kenaikan BBM jelas berpengaruh. Alat pertanian pakai solar, kalau harga bahan bakar naik, biaya operasional juga naik. Dan itu mempengaruhi upah kerja dan biaya pengolahan lahan,” jelas Sabil.

       Di tengah berbagai tantangan tersebut, Sabil berharap sektor pertanian dapat terus berkembang melalui dukungan pemerintah berupa bantuan alat, pupuk, serta perbaikan sarana penunjang pertanian. Ia, menilai perbaikan akses jalan ke persawahan menjadi kebutuhan paling mendesak demi kelancaran mobilitas petani dan pengangkutan hasil panen. 

Selain itu, ia juga berharap ada perhatian khusus terhadap regenerasi petani agar generasi muda mau terlibat di sektor ini. “Harapan saya, pertanian di sini bisa terus maju dan berkembang, yang paling penting akses jalan ke lahan pertanian bisa segera diperbaiki, dan anak-anak muda mau terjun ke dunia pertanian,” pungkas Sabil.

(ALFZ, FS, NYH, AF)