Cuaca buruk dan sulitnya akses solar subsidi dalam beberapa bulan terakhir memicu penurunan drastis pendapatan nelayan di Pantai Karindangan. Kondisi musim yang tidak menentu memaksa para nelayan, baik skala kecil maupun besar, bertaruh modal besar dengan hasil tangkapan yang minim.
Kondisi paceklik ini biasanya mencapai puncaknya pada bulan November dan Desember, sehingga memaksa sebagian nelayan kapal kecil berhenti melaut total sambil menunggu musim udang di bulan Juni.
Nelayan di kawasan ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu nelayan kapal kecil yang melaut secara harian di sekitar pesisir, dan nelayan kapal besar yang jangkauannya mencapai laut lepas. Untuk sekali jalan, kelompok nelayan kapal besar membutuhkan modal operasional yang cukup tinggi.
“Modal sekali berangkat berkisar antara Rp10 juta sampai Rp15 juta,” ujar Musa, salah satu nelayan kapal besar, dalam wawancara langsung, Sabtu (20/6).
Selain modal operasional yang tinggi, nelayan kapal besar harus menghabiskan waktu 10 hingga 15 hari di perairan luar, seperti Muara Kuala, untuk menutup modal harian. Berbeda dengan kapal besar, nelayan kapal kecil menggunakan teknik jaring tepi pantai yang diikatkan pada pohon untuk membatasi area tangkapan.
Faktor cuaca dan mahalnya harga bahan bakar non-subsidi menjadi hambatan utama yang dihadapi nelayan saat ini. Musa mengungkapkan bahwa angin kencang sering kali memaksa kapal untuk pulang lebih awal sebelum target tangkapan terpenuhi.
Beban operasional tersebut diperparah oleh distribusi solar bersubsidi yang dinilai tidak merata. “Kami tidak dapat subsidi solar. Biasanya yang mengurus itu bos kapal, tapi nyatanya kami tetap kesulitan mendapatkannya,” keluh Musa.
Tantangan operasional ini berdampak langsung pada penurunan drastis volume tangkapan serta pendapatan bersih nelayan. Masrudi, nelayan kapal kecil, mengaku saat ini hanya mampu membawa pulang 5 hingga 10 kilogram ikan per hari karena sangat bergantung pada durasi bertahan di laut.
Penurunan lebih drastis dirasakan kelompok nelayan kapal besar, yang menurut Kadilah, kini hanya membawa pulang sekitar Rp1 juta setelah sembilan malam melaut. Padahal, pada musim normal, mereka rata-rata dapat mengantongi Rp3 juta hingga Rp4 juta per setengah bulan.
Meski terkadang merugi, mayoritas nelayan memilih tetap melaut karena sektor perikanan merupakan satu-satunya keahlian ekonomi yang mereka miliki secara turun-temurun. “Tidak ada pekerjaan lain selain ini. Melaut sudah jadi kebiasaan dan satu-satunya mata pencaharian utama kami,” tegas Masrudi dalam wawancara langsung, Minggu (21/6).
Para nelayan berharap pun berharap agar perhatian pemerintah bisa lebih merata, khususnya untuk memenuhi kebutuhan alat tangkap yang lebih memadai. “Harapan saya ya mengalir saja, karena melaut ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Ada bantuan atau tidak, kami akan tetap melaut,” ungkap Masrudi pasrah.
(NAR, KYZ, CJY, RNM)









Leave a Reply