Kampung Buku Hidupkan Gagasan Tan Malaka

Waktu Baca: 3 menit

Agenda Rutin Kampung Buku

Kegiatan “Bincang Literasi” kembali digelar di Kampung Buku Banjarmasin (31/3) lalu, menghadirkan Willy Alfarius selaku dosen Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai pembicara dan Ahmad Syaripudin dari Komunitas Banjarmasin Book Party sebagai moderator.

Membedah Perjalanan Pemikir Bangsa

Pendiri Kampung Buku, Reza Pahlevi, menekankan pentingnya membaca buku Dari Penjara ke Penjara yang terbit pada tahun 1947 sebelum memulai membaca buku fenomenal Tan lainnya, yaitu Materialisme, Dialektika dan Logika (Madilog). 

Willy menekankan pembacaan mengenai Tan Malaka seringkali luput dari konteks. Dari Penjara ke Penjara menyibak  perjalanan pelarian dengan  naratif yang tajam,  memperkenalkan kompleksitas pemikiran dan posisi Tan Malaka di garis sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Memaknai Tan Malaka Kini

Bagi Willy, selama ini di Indonesia, sosok pahlawan dibayangkan mengangkat senjata melawan penjajah. Sementara itu, sosok yang mengonsep pembebasan negara lewat pemikiran kurang dikenal, seperti Tan Malaka.  Merawat gagasan yang ditinggalkan ini dimulai dari mempelajari pemikirannya.

Kendati Indonesia telah merdeka,  keadaan rakyat yang dibahas dalam Dari Penjara Ke Penjara seperti kemiskinan di tengah-tengah penguasa masih menguasai sumber daya alam berlebih, diskriminasi, tidak berubah. Willy menganggap pola pikir penguasa tidak berubah. Hal ini yang menjadikan buku Tan masih relevan untuk dibicarakan. 

Ruang Bebas Dialektika

Bincang Literasi  mendiskusikan buku-buku yang diminati khalayak. Reza Pahlevi menjelaskan sasaran kegiatan adalah pemuda Banjarmasin, dengan harapan semakin banyak pengunjung Kampung Buku. Bukan hanya sekadar membicarakan buku, upaya ini menjadi wadah merawat nalar kritis di Banjarmasin.