Rencana pendirian Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP ULM) sempat tertunda akibat kebijakan moratorium pembukaan program studi baru oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Di gagas sejak 2019 lalu, tim pembentukan prodi tengah mempersiapkan penyempurnaan proposal untuk dibawa ke tingkat senat universitas. Bagaimana kabar rencana pengajuan prodi yang akan mengikuti Universitas Mulawarman ini?

Lika-Liku Pengajuan Prodi Baru
Farah Qubayla, Ketua Tim Pembentukan Program Studi Hubungan Internasional mengungkapkan bahwa urgensi pendirian prodi baru ini didasarkan pada minimnya prodi serupa di tanah Borneo. Saat ini, Prodi HI baru tersedia di Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Universitas Nahdlatul Ulama Kaltim (UNU Kaltim), dan Universitas Tanjungpura (Untan). “Padahal, minat lulusan sekolah di tingkat regional di bidang ini cukup tinggi. Kami melihat peluang sekaligus kebutuhan untuk membuka Prodi HI di ULM,” ujarnya dalam wawancara langsung, Rabu (11/3).
Rencananya, prodi HI di ULM fokus pada diplomasi ekonomi dan diplomasi lingkungan untuk menonjolkan keunggulan lokal yang selaras dengan visi universitas berbasis lingkungan lahan basah. “Fokus ini relevan dengan kondisi Kalimantan Selatan yang memiliki aktivitas perdagangan besar serta isu lingkungan seperti kawasan Pegunungan Meratus. Hal ini yang akan menjadi ciri khas prodi kita,” jelas Farah.
Ambisi strategis tersebut mendapat dukungan penuh dari Irwansyah selaku Dekan FISIP ULM. Ia menilai rencana ini bukan sekadar perluasan prodi, melainkan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tingkat fakultas. “Pembukaan prodi HI didasarkan pada beberapa pertimbangan, dari tingginya minat calon mahasiswa hingga kesiapan sumber daya fakultas,” tuturnya dalam wawancara langsung, Selasa (10/3).
Lebih lanjut, Irwansyah menjelaskan bahwa gagasan pendirian prodi HI berasal dari tingkat prodi terlebih dahulu. Prodi harus mengajukan dokumen yang mencakup proposal pendirian prodi, kajian kebutuhan, serta kelengkapan akademik lainnya. Hal lain yang harus dilengkapi adalah hasil studi komparatif atau benchmarking beberapa universitas yang memiliki prodi HI.
Setelah proposal dinyatakan lengkap, pengajuan harus dibahas di senat fakultas. Proses selanjutnya, dekan akan mengajukan ke rektor, selanjutnya rektor akan mengusulkan pengajuan ke tingkat senat universitas. Jika telah disetujui oleh senat universitas, pengajuan prodi baru akan dibawa ke kementerian terkait. “Saat ini kami sedang menyelesaikan penyusunan proposal. Setelah rampung, dokumen tersebut akan segera dirapatkan di tingkat senat universitas untuk mendapatkan rekomendasi dari Rektor dan Senat bahwa FISIP siap membuka prodi HI,” jelas Irwansyah.
Pendirian prodi baru tidak hanya soal proposal dan pengajuan, melainkan juga kesiapan teknis. Beberapa aspek utama yang harus dipenuhi meliputi ketersediaan sumber daya manusia (SDM), kesiapan kurikulum, serta sarana dan prasarana pendukung. “Jika seluruh persyaratan terpenuhi, biasanya bisa segera mendapatkan izin untuk membuka,” ucap Iwan Aflanie, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik ULM, dalam wawancara langsung, Selasa (10/3).
Farah mengungkapkan bahwa dokumen pengajuan prodi HI telah disusun sejak 2019 lalu, bersamaan dengan penerimaan dosen yang memiliki latar keilmuan HI. Dokumen sempat dibahas dan disetujui di tingkat fakultas pada 2020, akan tetapi terhenti akibat kebijakan moratorium secara nasional dari kementerian yang lebih memprioritaskan prodi yang berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Akibatnya, fakultas perlu memperbarui dokumen pengajuan agar sesuai dengan ketentuan terbaru agar dapat diajukan kembali. “Proposal yang telah disusun harus diperbarui sesuai dengan format terbaru, termasuk menambahkan analisis kebutuhan, kesiapan sumber daya, serta dukungan dari berbagai pihak,” timpal Iwan Aflanie.
Kendati demikian, tim penggagas sempat mencoba mengajukan kembali pada 2023 dengan skema lain. “Kami mengajukan pendirian prodi Perdagangan Internasional, akan tetapi ditolak karena komposisi dosen dinilai terlalu didominasi oleh latar belakang HI,” ujar Farah.
Terkait kesiapan tenaga pengajar, pihak fakultas memastikan bahwa syarat minimal dosen telah terpenuhi. “Awalnya, hanya ada dua dosen dengan latar belakang HI, akan tetapi kini jumlahnya bertambah seiring adanya dosen-dosen lain yang memiliki keahlian relevan. Secara kuantitas dan kualifikasi, SDM kita sudah siap untuk pembukaan prodi baru ini,” tambah Farah optimis.
Mengejar Kesiapan Teknis
Rencana pembukaan prodi baru di FISIP ULM menjadi perhatian di kalangan mahasiswa, seperti yang diungkapkan Alyssa Noor Fauziah, mahasiswi Administrasi Bisnis 2025 ULM. Alyssa berpendapat, dengan adanya prodi HI, mahasiswa dapat memahami dinamika politik global dan kerja sama antarnegara yang turut mempengaruhi geopolitik Indonesia. “Harapannya, mahasiswa mampu membedah isu internasional yang kian mempengaruhi kebijakan domestik,” ujarnya dalam wawancara langsung, Selasa (10/3).
Pandangan serupa juga disampaikan Sherin Soekarna, mahasiswi Ilmu Komunikasi 2023 ULM. Ia menilai kehadiran prodi HI di ULM adalah solusi konkret bagi aksesibilitas pendidikan di Kalimantan yang ingin mendalami isu global. “Anak daerah kini punya opsi untuk mendalami isu internasional tanpa harus keluar pulau,” ungkapnya dalam wawancara daring, Selasa (10/3). Ia menambahkan, lulusan prodi ini juga berpotensi meningkatkan daya saing di lingkup internasional, seperti karier di kedutaan besar hingga organisasi internasional.
Sementara itu, Alyssa juga menekankan pentingnya pengelolaan program studi yang profesional agar mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif. “Harapannya tentu pengelolaan prodi ini dipersiapkan dengan matang agar mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki daya saing global, bukan hanya sekedar mengejar kuantitas mahasiswa saja,” pungkasnya.
Selaras, urgensi pendirian prodi HI tidaklah sebatas pemahaman teori, mahasiswa juga akan diarahkan pada pendidikan karakter serta kematangan berorganisasi. Kemampuan adaptasi di lingkungan multibudaya serta penguasaan bahasa asing menjadi kompetensi tambahan yang sangat ditekankan agar lulusan memiliki kepercayaan diri di ranah internasional. “Melalui kurikulum yang dirancang untuk merespons isu-isu terkini, lulusan HI diharapkan lahir menjadi praktisi yang mampu memberikan solusi nyata atas permasalahan global yang berdampak pada daerah,” pungkas Farah.
Guna mewujudkan rancangan tersebut, Iwan Aflanie mengingatkan kesiapan teknis menjadi syarat mutlak. “Makin cepat makin baik, akan tetapi setiap prodi memiliki kesiapan yang berbeda-beda. Jika seluruh persyaratan lengkap dan paripurna, biasanya proses persetujuan dapat berlangsung lebih cepat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ULM berkomitmen terus menjaga kualitas akademik pada setiap program studi yang dibuka. “Setiap program studi pasti punya keinginan untuk mendapatkan akreditasi unggul, bahkan akreditasi internasional. Pihak universitas akan bertanggung jawab untuk meningkatkan dan menjaga mutu tersebut,” tutup Iwan Aflanie.
Irwansyah menyebut pihak fakultas menargetkan agar pengajuan Prodi HI dapat dilakukan dalam waktu dekat. “Harapannya prodi HI tahun ini segera terbuka dan terealisasi,” pungkasnya.
(SZA, KYZ, ALFZ)
Artikel ini telah diperbarui karena kesalahan penulisan data atau informasi sebelumnya.









Leave a Reply