Belum Usai Kasus +0888, Penipuan Daring Menyasar Mahasiswa ULM Terulang Lagi

SUMBER FOTO : DOKUMENTASI PRIBADI Siti Mariatul Qibtiah
Waktu Baca: 4 menit

Penipuan yang menyasar mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali terjadi sejak Senin (20/4) lalu. Pelaku menggunakan identitas nama dan gelar lengkap serta foto profil dosen FISIP ULM untuk meyakinkan korban, sehingga membuat sejumlah mahasiswa hampir tertipu. Kasus ini dikawal oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP ULM dan masih belum mencapai titik terang tentang siapa pelaku sebenarnya maupun asal kebocoran data. 

SUMBER FOTO : DOKUMENTASI PRIBADI Siti Mariatul Qibtiah

Peristiwa ini bermula ketika mahasiswa baru menerima panggilan dari nomor tidak dikenal pada Senin (20/4) sekitar pukul 18.00 WITA. Siti Mariatul Qibtiah, mahasiswa baru Program Studi (Prodi) Sosiologi 2026, dihubungi oleh pelaku bersuara laki-laki dan mengaku sebagai Husein Abdurrahman, Kepala Prodi Ilmu Pemerintahan. Ia mengaku sempat ragu merespons. “Awalnya saya ragu untuk mengangkat, tapi karena lihat profilnya seperti dosen, akhirnya saya jawab,” ungkapnya saat wawancara daring, Selasa (21/4). 

Dalam sambungan telepon antara pelaku dan korban tersebut, pelaku memperkenalkan diri dengan identitas palsu dan menyebutkan sebuah nama yang keliru. “Pelaku menyebut nama orang lain, bukan nama saya. Lalu saya betulkan, nama saya Siti Mariatul Qibtiah. Setelah itu, Pelaku bertanya tentang grup WhatsApp yang saya punya, termasuk grup mahasiswa baru,” tuturnya. 

Pelaku kemudian meminta nomor narahubung yang dihubungi korban saat memasuki grup mahasiswa baru jalur SNBP. “Saya kasih nomor narahubung namanya Rabiatul. Saya juga screenshot nomor-nomor yang terdaftar sebagai admin grup,” lanjut Siti.

Pelaku juga mengirimkan data pendaftar Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) dalam bentuk spreadsheet untuk meyakinkan korban. “Saya percaya karena pelaku mengirim data KIP-K, kurang lebih ada data 600 orang di situ. Jadi, saya pikir dia dosen,” tuturnya. 

Percakapan berlangsung sembilan menit pada panggilan pertama, sebelum  terputus dan kembali dihubungi oleh pelaku. Kecurigaan muncul saat pelaku mulai memberikan instruksi yang tidak wajar, seperti meminta korban mencetak sertifikat di tempat fotokopi, membeli materai, hingga mengisikan pulsa atau paket data dengan alasan akan diganti. “Katanya, dokumen sertifikatnya nanti akan dikirimkan. Saya saat itu buru-buru karena sedang siap-siap berangkat kerja. Dari situ saya sadar orang ini bukan dosen,” tambahnya. 

Siti kemudian bercerita pelaku sudah masuk grup mahasiswa Sosiologi FISIP ULM 2026. “Saya melihat pelaku sudah menghapus foto profil WhatsApp, setelah itu saya menghubungi kakak tingkat agar pelaku dikeluarkan dari grup,” ujarnya. 

Siti sempat dipaksa oleh pelaku untuk menuruti permintaannya. “Kata pelaku, “kamu bisa gak belikan saya pulsa atau paket data nanti saya ganti”.  Saat saya bilang tidak bisa karena harus bekerja, pelaku membalas “kamu sebentar aja mampir, pulang dari toko sekalian ambil print sertifikat”. Saya bilang tidak bisa karena biasanya kalau malam sudah tutup. Akhirnya pelaku mematikan teleponnya,” pungkas Siti. 

Korban tidak menuruti permintaan pelaku dan segera mengkonfirmasi kepada narahubung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP ULM. Kepala Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (ADKESMAWA) BEM FISIP ULM, Muhammad, memastikan bahwa pelaku bukan dosen FISIP ULM. 

Ia mengatakan pihaknya pertama kali menerima laporan dari mahasiswa baru melalui grup koordinasi, terkait pihak yang mengaku sebagai dosen dan mengarah pada penipuan. “Modusnya mengaku dosen dengan minta Nomor Induk Mahasiswa (NIM) untuk meyakinkan, lalu berujung pada permintaan pulsa,” ucapnya dalam wawancara langsung, Selasa (21/4).

Menindaklanjuti kejadian tersebut, BEM FISIP bersama pihak kampus segera menyebarkan imbauan melalui grup jaringan komunikasi mahasiswa dan media sosial.  “Kami menyebarkan imbauan melalui instagram resmi BEM FISIP ULM, grup calon mahasiswa baru, hingga melalui ketua angkatan,” ungkap Muhammad. Ia, menambahkan langkah berikutnya adalah menginformasikan kepada pihak universitas untuk ditindaklanjuti. 

Sementara itu, Kepala Tata Usaha (KTU) FISIP ULM, Indra, menyebut pihak fakultas tidak menerima laporan langsung dari mahasiswa terkait kasus tersebut. “Tidak ada laporan langsung ke sini, hanya informasi dari BEM bahwa ada mahasiswa baru yang dihubungi lewat WhatsApp,” tuturnya dalam wawancara langsung, Rabu (22/4). Pihak kampus juga telah mengklarifikasi bahwa tidak ada dosen atau pimpinan yang menghubungi mahasiswa secara pribadi untuk keperluan administratif. 

Indra menyebut pihaknya sudah melaporkan kejadian ini kepada pimpinan fakultas untuk ditindaklanjuti. Ia juga mengimbau kepada mahasiswa untuk lebih berhati-hati “Kami mengimbau kepada mahasiswa dan calon mahasiswa untuk lebih hati-hati kepada pelaku modus penipuan sejenis itu,” pungkasnya.

Menanggapi kasus ini, Muhammad berharap pihak fakultas maupun universitas bisa cepat tanggap dalam menangkap pelaku. “Harapannya untuk Fakultas ataupun dari universitas bisa cepat tanggap menangkap pelaku-pelaku seperti ini agar memberikan efek jera kepada pelaku-pelaku yang lain. Mengingat kita masih belum tahu pelaku dari kasus nomor +0888 tahun lalu,” tutupnya.

(SZA, SLV, RYN)