Menunjang Perkuliahan, FISIP ULM Sediakan 12 Unit TV dan Sound System

SUMBER FOTO : LPM INTR-O FISIP ULM
Waktu Baca: 5 menit

Sejumlah ruang kuliah dan penunjang di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mendapatkan televisi (TV) dan sound system per April 2026.  TV berukuran 100 inci dan sound system yang terdiri atas 12 pengadaan ini merupakan bagian dari program pembelajaran multimedia yang digagas dekan baru FISIP ULM melalui revisi anggaran pada Januari 2026. 

SUMBER FOTO : LPM INTR-O FISIP ULM

Irwansyah selaku Dekan FISIP ULM menjelaskan bahwa pengadaan TV sebelumnya tidak masuk dalam perencanaan awal.  Gagasan pengadaan ini dimuluskan lewat revisi anggaran pada Januari 2026 lalu. “Pembelajaran dengan TV berbasis multimedia memang termasuk di dalam program kerja saya saat mencalon menjadi dekan,” ujarnya dalam wawancara langsung, Selasa (14/4).  

Kepala Tata Usaha FISIP ULM, Indra merincikan sebanyak 12 unit TV 100 inci diprioritaskan untuk ruang kelas berkapasitas besar seperti R.1, R.7, R.8, X.Kom serta ruang sidang dan seminar Gedung Lama FISIP ULM. “Kami  memprioritaskan distribusi 12 unit TV tersebut ke ruang-ruang yang besar,” katanya dalam wawancara langsung, Rabu (15/4).

Lebih lanjut, Arsiparis Bagian Umum FISIP ULM, Alamsyah menyebutkan instalasi sound system juga sudah rampung di R.1, R.2, R.7, R.8, X.Kom dan Ruang Kuliah (R.K.) 1 hingga R.K. C Gedung Lama FISIP ULM. “Hanya Ruang Aula yang masih menggunakan sound system tiang, ke depannya akan dipasang seperti di ruang kuliah lain,” ujarnya dalam wawancara Rabu (16/4). Ia juga menambahkan, untuk ruang kelas lantai dua Gedung Lama FISIP ULM masih menunggu instalasi listrik dan aula masih dalam proses. 

Melatarbelakangi pengadaan ini, Irwansyah menjelaskan bahwa pengadaan TV didasari oleh kurikulum yang baru yaitu Kurikulum Outcome-Based Education (OBE). “Salah satu tujuan kurikulum OBE adalah memberikan ruang pembelajaran lebih, seperti studi kasus dan proyek.” Irwansyah juga menambahkan bahwa pembelajaran bisa lebih interaktif dengan memanfaatkan YouTube sehingga dosen dapat memberikan contoh-contoh yang kreatif dan inovatif.

Pengadaan ini disambut positif oleh mahasiswa, seperti yang diungkapkan Nabila, mahasiswi Ilmu Komunikasi 2024 ULM. “Materi power point dari dosen lebih jelas terbaca ketika menggunakan TV daripada proyektor,” ungkapnya dalam wawancara langsung, Selasa (14/4). Selain itu, Nabila yang sebelumnya pernah menjadi penanggung jawab mata kuliah di angkatannya juga merasakan manfaat dari pengadaan sound system baru. Kehadirannya dinilai membuat pembelajaran lebih efektif sekaligus meringankan beban  karena sebelumnya harus kian kemari mengangkat sound system yang berat disertai kabel berlipat-lipat untuk kegiatan perkuliahan. 

Pendapat serupa disampaikan Andini, mahasiswi Ilmu Pemerintahan 2024 yang menjelaskan bahwa kehadiran TV membuat lampu kelas bagian depan tidak perlu lagi dimatikan saat materi ditampilkan. “Dulu pakai proyektor lampu depan harus dimatikan, padahal saya biasa duduk di depan jadi susah mencatat. Sekarang dengan TV lampunya tetap bisa menyala karena kualitas gambarnya HD dan tetap terlihat jelas,” ungkapnya positif dalam wawancara langsung, Selasa (14/4).

Akan tetapi, sejumlah kendala teknis masih ditemui di lapangan. Andini menambahkan bahwa pembelajaran di kelasnya sempat tertunda sekitar setengah jam, sebab dosen yang mengajar kebingungan bagaimana menyambungkan laptop ke TV. 

Nabila juga menambahkan bahwa insiden serupa bahkan terjadi saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung. “Ujian Tengah Semester sempat tertunda karena dosen belum paham cara menyambungkan laptop ke TV, ternyata kabelnya saja yang belum disambungkan,” tutupnya.

Dosen Administrasi Publik FISIP ULM, Syakrani mengapresiasi inisiatif dekan ini sebagai langkah awal yang baik. Namun, ia menyoroti proses komunikasi dengan pengguna sebelum pembelian perlu ditransparansikan agar ukuran dan penempatan TV benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan. Selain itu, ia juga menyoroti belum adanya tenaga teknis khusus yang siaga saat terjadi gangguan. Dosen dan mahasiswa lah yang kerap harus mencari tahu sendiri penanganannya. Teknologi secanggih ini tetap butuh pendamping sampai dosen benar-benar paham menggunakannya,” ujarnya dalam wawancara langsung, Rabu (15/4).

Menanggapi kendala teknis, Indra menjelaskan pihak Bagian Umum FISIP ULM telah mengarahkan tiga orang untuk siap siaga apabila diperlukan sewaktu-waktu. “Kami sudah siapkan tiga orang dari bagian umum yang akan bersiaga, sehingga jika terjadi kendala saat pembelajaran, dosen yang bersangkutan dapat langsung melapor,” ujarnya.

Di sisi lain, Indra juga menjelaskan bahwa pertimbangan efektivitas memilih mengadakan TV ini dibandingkan proyektor adalah karena tampilan layarnya lebih jelas untuk dilihat dan mempermudah dosen. “Kami memilih TV karena tampilan layarnya lebih jelas dibandingkan proyektor. Selain itu, proyektor sering bermasalah dengan koneksi laptop dosen yang berbeda-beda,” ujarnya.

Adapun tindakan untuk mengefektifkan aset proyektor sebagai fasilitas kampus, Irwansyah memastikan proyektor yang digantikan tidak dinonaktifkan sepenuhnya melainkan dialihfungsikan untuk keperluan pinjaman organisasi mahasiswa dan kegiatan lainnya.

Sementara itu, untuk kelanjutan pemerataan TV ke seluruh kelas, Irwansyah menyebut hal itu masih menunggu kesiapan kapasitas listrik yang tengah direncanakan melalui Detail Engineering Design yang dijadwalkan rampung pada 2026 dan direalisasikan pada 2027 termasuk rencana pembangunan trafo mandiri agar daya listrik lebih memadai untuk menunjang seluruh perangkat multimedia di fakultas. 

Menunggu keputusan resmi terkait perencanaan keberlanjutan tersebut, Indra juga menyampaikan bahwa keputusan soal penambahan TV pada 2027 belum dapat dipastikan dan akan dibahas dalam rapat pimpinan sekitar bulan Mei atau Juni mendatang. “Untuk penambahan di 2027, kami belum bisa pastikan karena anggaran tahun depan belum disusun,” pungkasnya.

Terkait keberlanjutan program, Irwansyah berharap para dosen dapat memanfaatkan TV ini untuk meningkatkan mutu akademik. “Kami berharap dosen-dosen dapat membawa pelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif. Bukan hanya sekedar menampilkan power point, tetapi juga memanfaatkan media untuk mengerjakan simulasi dari studi kasus-kasus,” tutupnya. 

(ZEN, NKA)