Spanduk dengan tulisan yang dicetak besar-besar “Pameran Kompilasi Protes” di pintu masuk Bengkel Lukis Solihin di Taman Budaya Kalimantan Selatan mengundang derap langkah pengunjung mengulik dalamnya. Beragam bentuk seni terpampang dalam ruangan bertembok putih, mulai dari lukisan, sketsa yang urung usai, instalasi buku yang berjejer digantung, instalasi bertingkat dengan warna mencolok, puluhan poster yang memenuhi ruang khusus, sampai permainan monopoli. Semua karya itu memaku pengunjung untuk meresapi krisis ekologis yang telah menjadi kelaziman di tanah air.

Ajakan Kolektif Merespons Keresahan
Keresahan ini tertuang dalam pameran yang bertajuk “RADIKAL RE-AKSI: Menenun Kolektif, Menantang Krisis”. Dibuka dalam rentang 4–12 April 2026, ruang ini menjadi medium perupa lokal dalam sebuah aksi yang lebih dari penampilan karya biasa. Pada pembukaan, pengunjung diajak untuk mengenali setiap karya seni, terdapat dialog dua arah antara pengunjung dan seniman langsung. Tepat sehari setelah pembukaan, pameran membuka lapak baca yang digelar oleh Extinction Rebellion (XR) Meratus dan Komunitas Gemar Belajar (Gembel) Banjarmasin.
Semangat perlawanan ini terasa semakin nyata karena seluruh pameran lahir dari konsep swadaya. Setiap detailnya dijahit dari dana kolektif tanpa bergantung pada sponsor besar, melainkan buah kerja kolektif yang dikomandoi oleh Maudya Pramitha dan Eky Abdan bersama tim inti. Kekuatan kolektifnya lahir dari kolaborasi komunitas seperti Komunitas Gembel Banjarmasin, XR Meratus, Maui Chiver, dan JDR, serta deretan seniman lokal, di antaranya Hafil Ma’shum, Nazula Anisa, Hakim Faizal, Rizma Kurniati, hingga Cetacea.
Eky Abdan selaku kurator menjelaskan penyelenggara melakukan open call selama dua bulan hingga pertimbangan mendalam atas konten, konteks, serta keahlian teknis para seniman. Salah satu fokus penilaian pada aspek penulisan karya memiliki alasan. “Kualitas karya perupa Kalimantan Selatan sudah baik, akan tetapi masih kurang dalam menyampaikan konteksnya melalui tulisan. Hal ini penting dalam pameran,” terangnya dalam wawancara daring, Selasa (7/4).
Kilas balik, pameran ini berangkat dari keinginan menyelenggarakan pameran sederhana untuk seniman muda. Diskusi berjalan sampai di topik rentetan bencana alam di Indonesia yang menjadi alarm bagi Eky dan panitia. “Indonesia sedang diarungi bencana, salah satunya banjir di Banjarmasin. Hal itu mendorong tim penyelenggara menetapkan subtema yang berfokus pada ekologi,” jelasnya. Dengan demikian, pameran ini merupakan ajakan untuk mengulik akar persoalan krisis lingkungan.
Kendati setiap seniman yang menampilkan karyanya di pameran memiliki fokus berbeda, mulai dari isu kelautan hingga hak perempuan, mereka tetap dalam satu kesatuan isu ekologi. “Pesan utamanya adalah menenun kolektif, karena sebuah gagasan besar tidak mungkin diwujudkan sendirian, perbedaan fokus tiap seniman justru disatukan agar saling melengkapi,” lanjut Eky.
Lika-Liku Penciptaan Makna
Menerjemahkan keresahan menjadi sebuah karya yang bisa “disentuh” pengunjung bukanlah perkara mudah. Nazula mengungkapkan harus memutar otak untuk mencari medium yang tepat untuk menyentil ketamakan kekuasaan yang abai terhadap krisis lingkungan. “Saya memilih medium monopoli agar karya ini disentuh dan diajak berinteraksi. Selain itu, saya juga ingin mengemas isu ekologi agar terasa lebih ringan bagi pengunjung,” ceritanya dalam wawancara langsung, Kamis (9/4).
Indopoly terpajang di atas meja kayu dalam bentuk instalasi permainan papan berukuran 30×30 cm. Di atas kertas akrilik tersebut, Nazula menggambar petak-petak permainan yang tidak lagi berisi nama kota, melainkan ilustrasi kritis seperti eksploitasi lahan hingga ketimpangan sosial. Ia sengaja menggunakan warna-warna cerah agar visualnya tetap menarik dan membuat pengunjung ingin berinteraksi langsung. Bagi Nazila, monopoli adalah gambaran nyata bagaimana sistem kekuasaan bekerja, di mana kemenangan satu pihak seringkali dibangun di atas kerugian orang lain.
Berbeda dengan Nazula, Hafil Ma’shum memilih jalan yang lebih personal melalui seni kaligrafi kontemporer yang bertajuk Tumpul di Atas, Tajam ke Bawah. Karya ini merupakan lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 cm dengan komposisi dramatis didominasi sapuan warna kuning, cokelat, jingga, hingga kemerah-merahan yang menggambarkan suasana bumi kian kering, gersang, dan panas. Di tengah kanvas, Hafil menggambarkan simbol neraca keadilan yang berat sebelah, di mana satu sisinya runtuh menimpa sebuah kitab hukum bertuliskan LAW. Dengan lihai, ia memadukan kaligrafi ayat 124 Surah Al-Baqarah yang membentuk jalinan rantaian dan pedang yang menusuk bumi.
Ide kaligrafi tak lepas dari kegemarannya mengasah penulisan kaligrafi sejak usia sekolah dasar. Ide-ide visual pun kerap muncul di kepalanya secara spontan. Meski begitu, ia mengaku tetap menghadapi tantangan teknis dalam menerjemahkan pesan ke dalam karakter huruf yang presisi. “Inspirasi itu muncul di tengah proses riset. Tantangan terbesarnya adalah menyesuaikan karakter kaligrafi agar kedalaman pesan ayat tersebut benar-benar sampai ke pengunjung,” tutur Hafil dalam wawancara langsung, Rabu (8/4).
Tak hanya karya visual dua dimensi, pameran ini juga menghadirkan instalasi dari Komunitas Gembel Banjarmasin yang mencolok di tengah-tengah ruangan. Tampak tiga helai kain putih menjuntai dengan tulisan IQRA merah menyala sebagai pengingat perintah membaca. Di antara kain tersebut, puluhan buku digantung pada hanger pakaian menjadi sebuah simbol kritik terhadap logika konsumsi, sekaligus ajakan bagi pengunjung untuk “memilih” pengetahuan guna dibawa pulang.
Gagasan awal IQRA terbentuk dari diskusi bersama kurator untuk mencari cara sederhana namun mengena dalam menyentil minimnya literasi lingkungan. Pilihan jatuh pada menggantungkan buku-buku bertema perlawanan di gantungan pakaian yang dikerjakan selama satu bulan. “Aksi nyata terhadap krisis lingkungan hanya bisa kita lakukan jika kita punya landasan pengetahuan, dan salah satunya adalah dengan membaca,” ujar Gaga Andarus selaku pendiri komunitas dalam wawancara langsung, Rabu (8/4).
Pameran Kompilasi Protes membuktikan bahwa seni rupa mampu menjadi bahasa yang lebih jujur dalam membedah krisis alam. Alih-alih hanya menjadi tontonan pasif, setiap karya dirancang sebagai alat kritik sosial untuk menggugah kesadaran pengunjung. Eky menegaskan bahwa inilah saatnya mengembalikan fungsi dasar seni ke jalur perlawanan. “Fungsi seni selain berfokus pada sisi dekoratif, juga mempunyai sisi lain berupa aspek perlawanan. Apapun wacana yang dikritik, fungsi seni rupa dilibatkan pada sisi itu,” tegasnya.
Semoga Kritik Sampai pada Perusak Alam
Bagi Eky, meski perubahan besar tak terjadi dalam semalam, pameran ini adalah langkah kecil untuk menyadarkan publik bahwa alam bukanlah komoditas eksploitasi. “Saya harap orang-orang yang datang bisa lebih melek. Langkah kecil, tidak kasar, tapi pasti,” tuturnya. Hal ini diamini oleh Gaga yang berpendapat seni adalah salah satu alat untuk kita bisa mengorganisir masyarakat dan memberikan kesadaran. Seni dapat menyampaikan pesan yang mungkin tidak tersampaikan lewat cara lain.
Dibuka untuk umum, Eky menyoroti pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Sebagian memang datang untuk menghayati dan memahami karya seni, akan tetapi sebagian lagi hanya sekadar mengambil swafoto. Baginya, hal itu tidak menjadi masalah, paling tidak ada yang mengunjungi pameran. “Apakah dapat mendorong perubahan sosial terkait isu ekologi, tergantung apakah lebih dulu ekskavator atau manusia yang datang ke pameran,” tutupnya bergurau.
Harapan serupa juga datang dari Nazula yang menginginkan karya seni mampu memicu tindakan nyata bagi penikmatnya. “Saya berharap muncul tindakan nyata dari diri sendiri dalam menyikapi krisis ekologi, serta semakin terbukanya wawasan masyarakat terhadap seni rupa,” tutupnya.
Sementara itu, Hafil berpesan agar seni terus menjadi pengingat bagi mereka yang abai terhadap lingkungan, terkhususnya pada penguasa yang tamak mengeluarkan izin maupun membiarkan tindakan yang mematikan lingkungan hidup. “Bagi saya, bumi tanpa seni hanyalah sebuah batu. Semoga kritik yang dibungkus dalam karya ini sampai kepada mereka yang mengeksploitasi alam,” tamatnya.
(FZH, KYZ, NFS)









Leave a Reply