Instalasi kelistrikan di gedung utama kegiatan perkuliahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Gedung Lama FISIP ULM, seringkali menuai keluhan, seperti pendingin ruangan, kipas angin, sound system dan lampu yang tidak berfungsi secara maksimal. Masalah ini diduga diakibatkan oleh kabel-kabel yang berasal dari tahun 1980-an yang belum pernah diremajakan secara menyeluruh.
Menanggapi masalah ini, FISIP ULM resmi mengusulkan rencana peremajaan total dalam tahun anggaran 2026 dan akan diajukan untuk direalisasikan pada tahun anggaran 2027.

Hawa Panas dalam Ruang Kelas
Keluhan ini Tim LPM INTR-O dengar langsung dari civitas akademika FISIP ULM. Juwita Maharani, Mahasiswa Administrasi Bisnis 2025, mengeluhkan pendingin ruangan yang tidak berfungsi. “Di Ruang 2, AC kurang terasa dan aliran listriknya juga kerap terputus,” ujarnya dalam wawancara langsung, Selasa (27/10).
Ia, menambahkan bahwa suhu ruang kelas yang panas mengganggu konsentrasi mahasiswa, sementara penggunaan kipas portable justru menimbulkan kebisingan dan dapat mengalihkan perhatian.
Keluhan serupa juga disampaikan Kade, Mahasiswa Administrasi Publik 2022. Kade mengungkapkan bahwa pemadaman listrik secara tiba-tiba sering berlangsung cukup lama dan menghentikan fungsi sejumlah fasilitas di kelas.
“Pemadaman listrik mendadak yang berlangsung cukup lama kerap mengganggu perkuliahan. Akibatnya, fasilitas seperti AC dan mikrofon tidak dapat digunakan, padahal mikrofon diperlukan agar suara dosen terdengar jelas,” ungkapnya dalam wawancara langsung, Selasa (27/10).
Kade menilai suhu ruang kelas yang panas turut memengaruhi kenyamanan mahasiswa dan dosen. Bahkan dalam kondisi tertentu, membuat kegiatan perkuliahan berakhir lebih awal.
Wakil Dekan II FISIP ULM, Mahyuni, turut menambahkan bahwa gangguan itu juga dirasakan oleh staf fakultas. Ia menjelaskan bahwa gangguan kelistrikan diduga tidak hanya berkaitan dengan instalasi di lingkungan fakultas, tetapi juga jaringan listrik di tingkat universitas.
“Yang merasakan hampir semua, dan (aliran listrik, RED) kami pun juga di sini kadang bisa mati, mungkin kelistrikan ULM yang bermasalah,” tuturnya saat ditemui langsung, Selasa (27/10).
Penelusuran Akar Masalah
Kepala Bagian Umum sekaligus Petugas Arsiparis FISIP ULM, Alamsyah Yunus, menjelaskan bahwa akar masalah itu berasal dari tegangan listrik yang mengalami perubahan.
“Gangguan yang kami temui berkaitan dengan tegangan listrik yang naik turun. Tegangan yang idealnya mencapai 220 volt terkadang hanya mampu berada pada kisaran 200 hingga 180 volt,” jelasnya dalam wawancara daring, Selasa (27/10).
Alamsyah juga menambahkan bahwa ketidakstabilan tiga jalur fase listrik yang masuk ke panel tidak selalu sama.
“Kita punya tiga kabel fase yang masuk ke panel listrik. Kadang dua fase stabil dan satunya tidak, begitu pun sebaliknya, jadi tidak selalu sama. Contohnya, AC di ruang 2, biasanya terdapat satu fase yang stabil, jadi saat fase itu stabil AC tetap dingin. Tapi kondisi ini hanya terjadi kadang-kadang saja.” Tambahnya.
Di sisi lain, Mahyuni memaparkan bahwa instalasi listrik FISIP ULM belum pernah mengalami pembaruan menyeluruh dalam waktu yang lama.
“Sejak 1980-an, instalasi listrik belum pernah diperbarui secara menyeluruh. Perbaikan hanya dilakukan secara bertahap, seperti setelah terjadi kebakaran atau pembangunan gedung baru,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan kebutuhan listrik tersebut membuat jaringan dan kabel yang ada perlu disesuaikan.
“Dahulu instalasi listrik dirancang untuk penggunaan kipas angin. Saat ini, terdapat tambahan AC sehingga jaringan dan kabel yang ada perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut,” tambah Mahyuni.
Kami juga mewawancarai Biro Keuangan dan Umum ULM, Ali Hamid. Ia, menjelaskan bahwa penambahan peralatan atau fasilitas di kampus seharusnya diikuti oleh peningkatan kapasitas kabel yang menyokongnya.
“Saat ada penambahan peralatan, misalnya AC atau komputer, seharusnya disertai penggantian atau peningkatan kapasitas kabel. Banyak masalah terjadi karena peralatan bertambah, tetapi kabel lama tetap dipakai sehingga menjadi tidak memadai untuk menampung semuanya,” ujarnya ketika ditemui langsung, Jumat (30/10).
Langkah Kampus Selanjutnya
Bagaimana langkah yang ditempuh dari kampus? Menurut Mahyuni, pembenahan awal difokuskan pada pemeliharaan rutin oleh teknisi. Ia, mengatakan bahwa setiap laporan gangguan kelistrikan ditindaklanjuti.
“Setiap keluhan yang dilaporkan akan segera kami tindak lanjuti dan upayakan penyelesaiannya,” terangnya.
Mahyuni juga menambahkan bahwa wewenang fakultas dan universitas berbeda, Jika masalah kelistrikan terjadi di lingkungan fakultas, penanganannya menjadi tanggung jawab fakultas dan dikoordinasikan dengan bagian teknisnya.
Sebaliknya, jika gangguan bersumber dari instalasi tingkat universitas atau gardu induk, koordinasi dilakukan langsung dengan pihak universitas.
Kepala Tata Usaha FISIP ULM, Indra, menyampaikan bahwa anggaran perbaikan aliran listrik telah diajukan oleh pihak fakultas dan rencana pengerjaannya sudah disampaikan kepada mahasiswa saat audiensi.
“Sudah kita informasikan saat ada kegiatan audiensi mahasiswa bahwa kita sudah menganggarkan dan proses pengerjaan untuk perbaikan aliran listrik ini menjadi kewenangan fakultas, sedangkan penambahan daya menjadi wewenang pihak universitas,” ungkapnya dalam wawancara daring, Selasa (27/10).
Mahyuni menjelaskan bahwa rencana untuk anggaran perbaikan instalasi listrik ini sudah diusulkan. Akan tetapi, pelaksanaanya masih bergantung pada proses perencanaan serta ketersediaan dana.
“Perencanaan diharapkan selesai pada Desember 2026 dan pengajuan pelaksanaannya akan dilakukan untuk tahun 2027. Namun, realisasinya tetap bergantung pada ketersediaan anggaran serta kemungkinan pemotongan anggaran oleh pemerintah,” ungkapnya.
FISIP ULM Butuh Pembaharuan
Mahyuni berharap universitas menempatkan prioritas pada pembaruan instalasi gedung lama yang menjadi pusat akademik.
“Kami berharap perencanaan ini dapat terwujud dan apabila dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut menimbulkan gangguan, kami mohon agar dapat dimaklumi, karena hal ini dilakukan untuk keperluan jangka panjang. Insya Allah, kami meyakini bahwa setelah pekerjaan ini selesai, keluhan yang ada dapat berkurang dan diharapkan tidak terjadi lagi,” tutupnya.
Dari sisi mahasiswa, Kade dan Juwita berharap agar universitas bisa lebih memperhatikan lagi terkait instalasi kelistrikan ini dan segera ditindaklanjuti.
“Harapannya, fakultas dan universitas lebih memperhatikan lagi kondisi kelistrikan yang terjadi ini, dengan melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan secara rutin. Dengan begitu, gangguan listrik dapat dicegah dan tidak terjadi lagi yang namanya pemadaman saat proses pembelajaran berlangsung,” harap Kade.
Juwita juga berkeinginan supaya instalasi listrik ini bisa segera dibenahi.
“Harapannya segera dibenahi mungkin fasilitasnya dibetulkan atau ditambah, kalau tidak bisa ditambah setidaknya diperbaiki karena kebanyakan AC-nya sudah tua, jadi kita tidak tahu servisnya berapa kali dalam sebulan, mungkin perawatan secara berkalanya itu lebih dilakukan lagi,” pungkas Juwita.
Alamsyah turut berharap agar instalasi listrik ini segera diperbarui.
“Mudah-mudahan tahun depan seluruh kabel sudah diganti dengan kabel baru yang layak digunakan. Hal ini penting untuk mencegah korsleting dan menjaga kestabilan arus listrik. Jika rektorat juga memiliki perencanaan terkait penggantian kabel tersebut, tentu akan lebih baik,” tutupnya.
Mengenai laporan terkait gangguan kelistrikan di kampus, Ali Hamid menyarankan agar laporan gangguan listrik mencantumkan gedung atau titik yang spesifik. Hal ini bertujuan agar alokasi anggaran dapat dilakukan secara proporsional. Jika fakultas menemukan masalah kelistrikan, kebutuhan untuk memperbaiki atau mengganti kabel tersebut dapat dimasukkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L).
(HEL,ZEN,FZH)









Leave a Reply