Suarakan Keresahan,  Aliansi BEM SEKA Tuntut Reformasi Polri di Mapolda Kalsel

Waktu Baca: 3 menit

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Kalimantan (BEM SEKA) menggelar aksi unjuk rasa di Markas Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Mapolda Kalsel), Senin (2/3). Mengusung tajuk  Seruan Perlawanan #ReformatiPolri, aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes atas dugaan kekerasan aparat dalam sejumlah kasus yang menimbulkan korban sipil, serta tuntutan reformasi Polri. 

Atribut kampus berwarna-warni memadati kawasan Mapolda Kalsel sejak pukul 16.00 sampai 18.00 WITA. Mereka berasal dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam (STIHSA) Banjarmasin, Universitas Borneo Lestari, Universitas Nahdlatul Ulama, Politeknik Tanah Laut (Politeknik Tala), serta Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska) Banjarmasin.

Massa mengacungkan spanduk dan poster kritik di depan barisan polisi yang berjaga. Beberapa berbunyi “Katanya Presisi Nyatanya Represi #ReformatiPolri”, “Copot Listyo dari Polri”, dan “Polri Pembunuh Masyarakat”. Aksi diawali dengan orasi yang menyoroti persoalan penegakan hukum dan transparansi aparat kepolisian. Dalam orasinya, mahasiswa menilai kepolisian belum sepenuhnya menjalankan fungsi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. 

Salah satu peserta aksi, Muhammad Daffa Dzil Zidane Slucita Atmaja, mahasiswa Hukum 2023 ULM, menyebut aksi ini sebagai wadah menyalurkan keresahan terhadap aparat penegak hukum. “Aksi ini merupakan akumulasi dari keresahan kita terhadap aparat yang sering kali melakukan tindak kriminal,” ucap Daffa dalam wawancara langsung, Senin (2/3).

Mahasiswa membawa beberapa tuntutan di depan Mapolda Kalsel. Pertama, mendesak agar Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Listyo Sigit Prabowo turun dari jabatannya serta penghapusan praktik dwifungsi Polri di ranah sipil. Kedua, menghentikan segala bentuk kekerasan dan tindakan represif aparat terhadap masyarakat. Ketiga, mendesak Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Kapolda Kalsel), Rosyanto Yudha Hermawan, agar menindak tegas  polisi yang menjadi pelaku tindak narapidana dengan proses yang transparan, bukan sekadar sanksi etik. Terakhir, mahasiswa mendorong evaluasi menyeluruh terhadap institusi kepolisian.

Aksi itu juga menyoroti sejumlah kasus yang melibatkan kepolisian Kalsel. Di antaranya, kasus pembunuhan mahasiswa Akuntansi 2023 ULM, almarhumah Zahra Dilla, yang menyeret anggota polisi yang kini diberhentikan secara tidak terhormat bernama Muhammad Seili. Kasus yang terjadi pada Desember 2025 lalu itu dinilai lambat dalam penanganan. Selain itu, massa juga menyoroti dugaan kasus pengeroyokan terhadap dua anak di bawah umur yang diduga melibatkan polisi pada November 2025 di Martapura, yang belum menemui titik terang.

Menanggapi tuntutan tersebut, Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Kalimantan Selatan, Golkar Pangarso Raharjo Winarsadi, menyatakan pihaknya belum dapat langsung memenuhi semua tuntutan yang disampaikan. “Sebelum menandatangani poin-poin tuntutan tersebut, kami harus mempelajari dulu surat tuntutannya,” ujarnya saat menemui aliansi mahasiswa, Senin (2/3).

Koordinator lapangan aksi, Muhammad Arifin, menegaskan bahwa pihaknya akan merumuskan ulang poin-poin tuntutan karena belum diterima secara menyeluruh oleh pihak kepolisian. Ia juga memastikan akan menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar. “Hari ini poin-poin tuntutan tidak diterima secara menyeluruh, akan tetapi kami akan terus hadir dengan massa yang berlipat ganda,” tegas mahasiswa Ilmu Komunikasi Uniska  itu dalam wawancara langsung, Senin (2/3).

Aksi ditutup dengan kegiatan simbolik berupa penaburan bunga di depan gerbang Mapolda Kalsel. Sejumlah mahasiswa secara bergantian menaburkan bunga sebagai bentuk refleksi dan kritik terhadap institusi kepolisian. Menjelang pukul 18.00 WITA, massa  membubarkan diri dengan tertib. 

Daffa berharap aksi ini menjadi sebuah pesan yang tidak hanya menjadi angan-angan. “Saya harap negara masih dipenuhi oleh orang-orang yang peduli serta menjadi wadah bagi anak muda untuk menyuarakan keresahannya agar negara benar-benar hidup,” tutupnya. 

(RYN, SZA)