Amplang dan Iwak Karing Khas Pagatan

Sumber foto LPM INTR-O FISIP ULM
Waktu Baca: 3 menit

Beragam hasil tangkapan dari pantai Pagatan Besar tidak hanya dipasarkan dalam kondisi segar oleh warga Desa Pagatan Besar. Ikan tenggiri, gulama, kepala batu, pari, peda, selar, dan biji, diolah menjadi ikan asin dan amplang.

Sejumlah warga yang mengembangkan usaha pengolahan ini di antaranya adalah Yanti dan Asbaniah.

Yanti (44) telah belajar membuat ikan asin sejak kecil. Dan selama dua tahun terakhir, Yanti menggeluti usaha pengolahan ikan asin di Desa Asam-Asam, lalu melanjutkannya di Pagatan. Menurutnya, jika diolah, ikan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan dijual dalam kondisi mentah. 

“Ikan kecil seperti selar, tuyul, dan sarden sekitar Rp16.000 per kilogram. Kalau ikan besar seperti pari dan puput sekitar Rp40.000 per kilogram. Ikan basahnya saat membeli di nelayan Rp25.000 per kilogram,” ujarnya dalam wawancara langsung, Minggu (21/6).

Olahan Yanti dijual ke pedagang pasar dan pelanggan tetap di berbagai daerah, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, hingga Jawa. Saat permintaan meningkat, ia juga mempekerjakan warga sekitar untuk membantu proses pembelahan ikan sebelum memasuki tahap penggaraman dan penjemuran.

Selain Yanti, ada pula Asbaniah. Sebagian besar ikan berasal dari tangkapan anaknya yang melaut. Namun, ada pula nelayan yang menawarkan hasil tangkapannya. Pendapatan dari pengolahan iwak karing pun tidak menentu. “Tergantung hasil tangkapan dan rezeki. Kadang, hasilnya banyak. Kadang, lebih sedikit,” ujar Asbaniah dalam wawancara langsung, Sabtu (20/6).

Proses pembuatan ikan asin diawali dengan membelah dan membersihkan ikan, kemudian dilanjutkan dengan penggaraman sebelum dijemur hingga kering. Menurut Asbaniah, lama penjemuran bergantung pada kadar garam dan kondisi cuaca.

“Biasanya sekitar pukul 13.00 sudah kering, tetapi bisa juga sampai dua hari, tergantung garamnya,” ungkap Asbaniah. Setelah dijemur hingga kering, ikan asin disimpan terlebih dahulu agar kualitasnya tetap terjaga sebelum dipasarkan.

Olahan Garing dan Gurih

Sejak 2020, Ahdiah (42) mengolah tenggiri menjadi amplang yang bercita rasa renyah. Menurutnya, pengolahan tersebut memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan menjual ikan dalam bentuk mentah. 

“Kalau dijual mentah keuntungannya lebih kecil, jadi kami olah lagi menjadi amplang. Kalau ikan saja sekitar Rp65.000 per kilogram, kalau jadi amplang bisa Rp120.000 per kilogram,” ujarnya Ahdiah dalam wawancara langsung, Sabtu (20/6). 

Proses pembuatan dimulai dengan memisahkan daging tenggiri dari tulangnya, kemudian dibentuk menjadi adonan dengan campuran tepung kanji dan bahan. “Sehari bisa memproduksi amplang lebih dari 20 kg, kalau yang bekerja lebih dari lima orang,” jelas Ahdiah.

Ahdiah memasang harga yang terbilang terjangkau. “Amplang kecil persegi dihargai Rp4.000, amplang lonjong panjang dihargai Rp8.000, ada juga seharga Rp10.000. Kami kirim ke Palangkaraya, Sulawesi, sampai Jawa. Ada juga yang pesan lewat lokapasar (marketplace),” ujarnya.

(JLA, FAN, NDA, DYA)