Menelusuri Awal dan Status Terkini Pelelangan Gedung Rektorat ULM

Sumber foto : antaranews.com
Waktu Baca: 6 menit

Gedung Rektorat ULM di Jalan Brigjen H. Hasan Basry, Banjarmasin, kini mulai dibongkar setelah material bangunan tersebut dilelang sebagai bagian dari proses penghapusan aset negara. Akibat proses tersebut sejumlah aktivitas pelayanan dan administrasi rektorat untuk sementara berpindah ke Gedung Serbaguna (GSG) dan Gedung Pascasarjana.  

Sumber foto : radarbanjarmasin.jawapos.com

Awal Mula Pelelangan Gedung Rektorat ULM

Keputusan pelelangan ini didasari pada kewajiban pengelolaan aset negara setelah gedung mengalami kerusakan parah akibat kebakaran hebat pada Senin (28/7) setahun silam. Insiden kebakaran yang melanda sebagian Gedung Rektorat tersebut menyisakan kerusakan fisik yang memerlukan pembangunan kembali.

Koordinator Perencanaan ULM, Muhammad Ilyas mengungkapkan bahwa proses pelelangan tidak dilakukan oleh pihak Universitas. “Pelelangan ini merupakan bagian dari proses penghapusan aset di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), sehingga istilah pelelangan merujuk pada pembongkaran dan pelelangan material yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL),” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Jumat (18/9).

Juru Bicara ULM sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi, Novaria Maulina, menambahkan pelelangan ini ada dikarenakan sebagian Gedung Rektorat mengalami kebakaran sehingga memerlukan renovasi atau pembangunan kembali. “Jika ingin ada renovasi maka harus melalui proses pelelangan untuk membongkar gedungnya, yang dilelang ini adalah material bongkarannya seperti kayu, atap, dan material bangunan lainnya. Karena gedungnya milik negara maka harus dikelola KPKNL, jadi bukan gedungnya yang dilelang tetapi bongkaran materialnya,” tuturnya saat diwawancarai secara daring, Sabtu (19/9).

 Proses pelelangan kemudian dilaksanakan secara terbuka melalui situs lelang negara, dengan penawar tertinggi yang menjadi pemenang. Berdasarkan unggahan akun instagram @kpknlbanjarmasin, proses penawaran berlangsung hingga 20 Agustus 2026. Lelang tersebut dimenangkan dengan nilai penawaran tertinggi menembus angka senilai Rp978.000.000 dari nilai limit awal yang ditetapkan sebesar Rp322.347.000.

Proses Pembongkaran dan Rencana usai Pelelangan

Menanggapi rencana pembangunan ini pihak Universitas segera menyiapkan langkah lanjutan untuk membangun kembali fasilitas pusat administrasi kampus. Saat ini proses pembongkaran gedung lama sudah mulai berjalan setelah pemenang lelang memenuhi kewajiban pembayaran ke KPKNL.  “Sudah ada pemenang lelang dan pemenang lelang telah menyetorkan nilai tawaran. Saat ini sudah mulai proses pembongkaran. Sementara perencanaan pembangunannya kembali menjadi kewenangan murni universitas sendiri,” jelas Ilyas.

Ia menambahkan bahwa proses tahap pembangunan selanjutnya berbeda prosedurnya dengan pelelangan material. Sehingga mekanisme, anggaran dan pelaksanaan proyek renovasi atau rekonstruksi akan diatur oleh pihak kampus. “ syarat pembangunan kembali itukan harus ada pembongkaran dulu, jadi rencana selanjutnya setelah selesai pembongkaran nantinya akan proses pembangunan. Untuk tahap proses pembangunan itu berbeda prosesnya, karena murni dari pihak universitas bukan KPKNL yang membangunkan,” tambah Ilyas.

Dilansir dari persmakinday.com, pembangunan kembali akan diusahakan dilakukan secepatnya seusai proses pembongkaran selesai. Dengan target selesai di akhir tahun 2027, menyesuaikan dengan ketersediaan pendanaan.

Peralihan Aktivitas dan Pelayanan Administrasi Selama Transisi

Selama masa transisi, aktivitas administrasi rektorat dipindahkan ke beberapa lokasi untuk sementara waktu. Ilyas memastikan bahwa layanan akademik, keuangan, perencanaan, kemahasiswaan, dan sekretariat pimpinan dialihkan dan tersebar di beberapa gedung. “Layanan terpadu yang sebelumnya berada di Gedung Rektorat kini dipindahkan ke Gedung Serbaguna. Tamu dan mahasiswa dapat mendatangi layanan tersebut terlebih dahulu untuk kemudian diarahkan ke bagian yang dituju,” ungkapnya.

Meski lokasi pelayanan berubah, Ilyas mengatakan aktivitas perkantoran dan prosedur administrasi tetap berjalan seperti sebelumnya. “Kalau aktivitas tetap sama, karena kita ada standar administrasi perkantoran.” 

Lebih lanjut, Novaria juga menambahkan bahwa layanan akademik, keuangan, bidang perencanaan dan sekretariat pimpinan dipindahkan ke gedung-gedung lain selama masa transisi ini berlangsung. “Selama renovasi Gedung Rektorat ini pelayanannya dipindahkan ke beberapa gedung, seperti pelayanan akademik di Gedung Pascasarjana, pelayanan keuangan dan bidang perencanaan dan sekretariat pimpinan di Gedung Serbaguna,” tambahnya.

Dampak Peralihan Pelayanan bagi Mahasiswa 

Peralihan pelayanan rektorat ke sejumlah gedung membuat mahasiswa yang mengakses layanan tersebut perlu menyesuaikan kembali lokasi unit yang dituju. Ayu Lestari, Sekretaris Bidang Kemahasiswaan BEM ULM, menjelaskan bahwa ia merasakan perubahan, terutama soal lokasi dan kebingungan mencari bagian yang dipindahkan. 

Menurutnya, perubahan paling terasa pada penempatan unit pelayanan yang kini tersebar di beberapa gedung. “Di awal perubahan tempat memang cukup terasa. Karena kondisi ruangannya berubah dan bagian-bagian yang sebelumnya berada dalam satu gedung sekarang sudah dipisah ke beberapa tempat, jadi mahasiswa harus menyesuaikan lagi untuk mencari bagian yang ingin dituju,” tuturnya saat diwawancarai secara daring, Minggu (20/9).

Senada dengan Ayu, Sekretaris Jenderal BEM ULM, Satria Bima Agatha juga mengalami kendala serupa. “Contohnya dari jajaran organisasi, itu hanya ketidaktahuan beberapa titik karena perubahan lokasi. Tapi biasanya diarahkan,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Sabtu (19/9). Menurut Ayu, ketidaktahuan ini berakar pada kurangnya pemberitahuan informasi secara berkala. “Informasi mengenai perpindahan ruangan sempat disampaikan melalui Subbag ULM. Tapi sepertinya informasi tersebut sudah tidak rutin diunggah atau diperbarui,” ungkapnya. 

Satria juga menyoroti masih terbatasnya penyebaran informasi terkait perpindahan layanan rektorat ke sejumlah gedung. Menurutnya, informasi tersebut dapat disampaikan lebih luas dengan melibatkan organisasi mahasiswa. “Untuk pemberitaannya tidak ada yang tersebar di media. Mungkin seharusnya bisa diberitahukan melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kemudian disampaikan ke organisasi mahasiswa,” ujarnya.

Harapan Kelanjutan Gedung Rektorat ULM 

Pihak kampus, sivitas akademika, dan mahasiswa menaruh harapan besar terhadap pembangunan Gedung Rektorat yang baru, terutama dalam mengoptimalkan pelayanan selama masa transisi ini. Secara umum gedung baru ini diharapkan dapat menjadi pusat yang menunjang seluruh aktivitas administrasi secara lebih baik dan representatif.

Muhammad Ilyas berharap Gedung Rektorat yang baru ini nantinya dapat kembali mewadahi seluruh aktivitas rektorat serta tidak lagi mengalami persoalan banjir seperti sebelumnya. “Kami mengharapkan gedung itu kalau sudah selesai dapat mewadahi seluruh aktivitas yang ada di Gedung Rektorat. Mudah mudahan dengan gedung baru nanti tidak ada yang seperti dulu,” ujarnya.

Selain pembangunan gedung baru, Ilyas turut menekankan kelancaran proses pembongkaran agar tahapan berikutnya dapat berjalan sesuai rencana. “Untuk pembongkaran harapannya supaya cepat terlaksana, agar proses selanjutnya bisa sesuai jadwal yang telah disusun,” tutupnya.  Novaria juga menyoroti agar layanan administrasi tetap maksimal walau proses pembangunan sedang berlangsung. “Harapannya tentu walaupun kampus sedang direnovasi, namun pelayanan administrasi dan akademis harus tetap bisa maksimal,” pungkasnya.

Ayu berharap agar penataan fasilitas dan informasi mengenai lokasi pelayanan dapat diperjelas untuk memudahkan mahasiswa selama masa transisi. “Fasilitas dan penataan ruangannya bisa segera diperbaiki dan informasinya juga bisa lebih diperjelas lagi,” harapnya.

Sementara Satria menginginkan agar pembangunan segera cepat selesai, supaya akses dan koordinasi kembali jadi mudah seperti semula. “Untuk proses pembangunan harapannya memang agar secepatnya dapat kembali dibangun lagi, setelah pembongkaran, agar kira-kiranya kita lebih mudah untuk mengakses ke setiap tempat-tempatnya,” tutupnya.

(HEL, MAO, FS)