Warga Lok Lahung Loksado Belajar Suarakan Isu Desa lewat Sekolah Jurnalisme Warga

Waktu Baca: 4 menit

Selama tiga hari sejak (8/5) hingga (10/5), sejumlah peserta terpilih, media partner dan masyarakat lokal Desa Lok Lahung, Kecamatan Loksado, berkumpul di balai kaki pegunungan Meratus dalam rangka Sekolah Jurnalisme Warga dengan tajuk “Jurnalisme Akar Rumput.” Kegiatan ini digagas oleh AJI Persiapan Banjarmasin, dan berkolaborasi dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) ULM, BASIS, Sepaham Indonesia, Yappika, dan Forum Multi Pihak Banjarmasin.

Bukan sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini adalah upaya mendokumentasikan cerita, persoalan, dan perubahan lingkungan langsung dari masyarakat yang merasakannya.  Jumat (8/5) malam hari masyarakat mulai mengeluarkan keresahan mereka secara terus terang terkait jalan yang rusak, minim penerangan jalan, sulitnya sinyal internet hingga terbatasnya akses kesehatan dan pendidikan. 

Muncul berbagai isu sensitif, seperti persoalan sampah dan larangan manyalukut, yakni tradisi membakar lahan untuk manugal atau bercocok tanam padi gunung yang kini terbentur regulasi. Ibas, Kepala Desa Lok Lahung, mengungkapkan pelatihan ini diharapkan menjadi bekal konkret bagi anak muda desa. “Harapannya, pemuda di sini bisa belajar menulis dengan baik dan aman untuk menyampaikan apa yang mereka alami sendiri,” ujarnya.

Koordinator AJI Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna, menilai jurnalisme warga merupakan jawaban atas keterbatasan akses media nasional ke wilayah pelosok. Ia, menegaskan bahwa warga lokal adalah informan terbaik untuk menyuarakan realitas yang terjadi di sekitar mereka. “Warga desa adalah sumber informasi terdekat dengan persoalan nyata di wilayah mereka. Namun, selama ini suara itu jarang terdengar sampai ke luar,” ungkap Rendy.

Netty Herawati, Program Officer BaSiS (Building Enabling Environment and Strong Civil Society), menyebut Sekolah Jurnalisme Warga sebagai peluang bagi masyarakat Desa Lok Lahung untuk memperkenalkan khazanah pengetahuan lokal mereka karena menurutnya, selama ini pemahaman publik luar terhadap masyarakat adat Meratus masih sangat terbatas. “Masyarakat adat adalah pihak yang paling memahami lingkungan, hukum, dan tradisi mereka sendiri. Karena itu, pengetahuan ini perlu disebarluaskan secara mandiri melalui teknologi yang ada,” ujarnya. Ia, menambahkan bahwa kemampuan warga dalam membangun narasi sendiri sangat krusial. Hal ini bertujuan agar kondisi masyarakat dan lingkungan di kawasan Meratus tidak lagi dipandang sebelah mata atau disalahartikan oleh pihak luar.

Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber yang membedah jurnalisme dari berbagai sisi. Salah satunya, Budi “Dayak” Kurniawan menekankan pentingnya berpikir kritis dan keamanan hukum. Ia mewanti-wanti peserta agar tidak terjebak pasal UU ITE. “Kritis itu harus berargumen kuat. Hindari menyebut nama secara langsung, merekam anak kecil, atau menyinggung Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA),” tuturnya.

Berikutnya, Jumarto, jurnalis, membekali peserta dengan teknik menulis hingga wawancara, serta bagaimana bersikap skeptis. “Seorang jurnalis harus mencari fakta sebenarnya di lapangan dan jangan langsung menelan mentah informasi,” tegasnya.

Sedangkan, Ari Arung Purnama mengupas teknik dokumentasi video hingga pembuatan konten sederhana yang visualnya selaras dengan sebuah data.

Muktiono, Ketua SEPAHAM Indonesia, menekankan pentingnya warga desa beradaptasi dengan teknologi. Ia menyoroti bagaimana media sosial kini memungkinkan siapa pun berkomunikasi kapan saja, hingga memunculkan tren no viral, no justice.

Dosen Fakultas HukumA Universitas Brawijaya Malang ini menjelaskan bahwa Sekolah Jurnalisme Warga adalah wadah untuk mengasah kemampuan. “Kita belajar bagaimana menyuarakan apa yang ada di sekitar kita, mulai dari potensi wisata hingga kritik sosial, dengan cara yang efektif dan tetap aman,” ungkapnya.

Perwakilan Pusham ULM Banjarmasin, Arisandy Mursalin, mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah amanat konstitusi. 

Dengan bekal pengetahuan dari kegiatan ini, warga diharapkan memiliki keberanian untuk menyoroti realitas di sekitar mereka, khususnya mengenai hak-hak warga negara yang sering terabaikan, seperti akses kesehatan dan pendidikan.

Anita, salah satu peserta dari warga setempat, mengungkapkan pelatihan ini adalah pembuka mata. Ia baru menyadari bahwa keseharian di desanya memiliki nilai berita yang penting bagi dunia luar. “Kami sadar bahwa keadaan di sini penting diketahui orang luar. Harapannya, isu yang kami sampaikan bisa didengar oleh pemerintah,” ungkapnya.

Rendy, mengapresiasi seluruh pihak yang menyukseskan kegiatan ini dan berharap program serupa dapat terus berlanjut di berbagai desa lainnya.

Setelah menerima teori, para peserta langsung turun ke lapangan untuk melakukan peliputan praktis. Selama tiga hari di kaki Pegunungan Meratus, Sekolah Jurnalisme Warga telah berubah menjadi ruang bagi masyarakat Lok Lahung untuk mulai menuliskan sejarah mereka sendiri.

SOQ