Ma’rifatul Auliya’, mahasiswa Sosiologi 2023 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat berhasil menorehkan prestasi di bidang penulisan, salah satunya lomba cerita pendek tingkat nasional. Sosok perempuan berkacamata yang kerap disapa Rifa ini bercerita bahwa menulis adalah caranya untuk memportrait pengalaman khas keseharian kehidupan yang emosional dan menyentuh pembaca.

Titik Mula Perjalanan
Ketertarikan perempuan yang lahir di Surabaya pada 29 Januari 2004 terhadap menulis tidak muncul secara instan, semua berawal dari kebiasaannya membaca fiksi. Di titik itu, ia mencoba menulis untuk menuangkan ide yang ada di pikirannya. Minatnya pun juga dipengaruhi latar belakang keluarga, sang ayah merupakan penulis buku keagamaan.
Tepat dua tahun lalu, ia didorong oleh dosennya untuk mengikuti lomba Pekan Prestasi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) FISIP ULM. Itulah yang menjadi titik awalnya mengikuti lomba menulis. “Waktu itu iseng ikut lomba, terus ternyata masuk sepuluh besar nasional,” ujarnya dalam wawancara daring, Senin (13/4). Menulis pun mulai Rifa jalani dengan lebih serius. Seiring proses, Rifa perlahan menemukan topik dan gaya menulisnya sendiri.
Dalam merangkai cerita, Rifa sering memulai dari hal-hal kecil dan sederhana, seperti suasana atau satu kata yang kemudian dikembangkannya menjadi cerita yang utuh. “Biasanya aku mulai dari ide sederhana, misalnya dari suasana hujan, lalu dikembangkan pelan-pelan, ditambah konflik sampai ketemu ending-nya,” jelasnya.
Ia bertutur harus melalui tahap menyempurnakan ceritanya sampai benar-benar sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, Rifa menekankan bahwa proses penulisan juga memerlukan pendalaman materi, terutama ketika mengangkat tema tertentu seperti budaya. “Riset itu penting supaya ceritanya tetap masuk akal, apalagi kalau berkaitan dengan budaya atau hal spesifik,” katanya.
Kendati demikian, perjalanan menulis Rifa tidak selalu berjalan mulus. Rifa menyebut menjaga suasana hati dan konsistensi sebagai tantangan utama dalam proses menulis. Ia juga kerap mengalami writer’s block. “Kalau lagi buntu, biasanya istirahat dulu, nanti lanjut lagi kalau sudah siap,” tambahnya.
Jika ada satu hal yang menonjol dari tulisan Rifa, itu adalah kemampuannya menghadirkan emosi yang dekat dengan kehidupan pembaca. Ia cenderung mengangkat cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Biasanya, tema emosional dan dekat sama kehidupan, seperti cerita sedih atau konflik yang sering terjadi,” tuturnya.
Salah satu tema yang kerap ia angkat adalah cinta beda agama. Menurutnya, tema tersebut memiliki kedekatan dengan realitas sosial di kalangan muda saat ini, sehingga lebih mudah membangun hubungan emosional dengan pembaca. Rifa juga memberi perhatian khusus pada bagian akhir cerita. Baginya, ending merupakan hal penting yang menentukan kesan pembaca terhadap sebuah karya. “Ending itu sangat penting, karena biasanya itu yang paling diingat oleh pembaca,” jelasnya.
Melangkah Tanpa Ragu
Hingga kini, Rifa telah mengikuti sekitar dua puluh lomba penulisan fiksi. Namun, ia lapang mengakui tidak semua berujung dengan kemenangan. “Lebih banyak yang belum menang, tapi itu jadi pengalaman belajar,” katanya. Ia mengingatkan mahasiswa yang mulai ingin berkarya di dunia kepenulisan untuk memulai tanpa ragu.
Bagi Rifa, setiap kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses untuk berkembang. Ia banyak belajar dari penilaian juri dan respons pembaca untuk memperbaiki kualitas tulisannya. Meski demikian, momen ketika berhasil meraih prestasi selalu menjadi pengalaman yang berkesan bagi Rifa. “Saya merasa senang karena usaha yang dilakukan akhirnya dihargai,” ungkap Rifa saat menceritakan perasaannya ketika berhasil meraih kemenangan dalam lomba.
Ia juga membagikan tips dalam mengikuti lomba penulisan, seperti memperhatikan kesesuaian karya dengan tema, membuat judul yang menarik atau unik agar dapat menarik perhatian juri, serta menyusun pembuka yang tidak klise. “Jangan pakai kalimat yang biasa untuk pembuka, tapi coba gambarkan suasana saat itu,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya alur yang jelas dan tidak berbelit, serta menghadirkan ending yang tidak mudah ditebak. “Kalau bisa dikasih plot twist supaya ceritanya nggak gampang ditebak dan pembaca tetap tertarik,” tutupnya. Ia juga berpesan untuk selalu melakukan pengecekan ulang sebelum mengirimkan karya agar tulisan lebih maksimal.
Sebagai tempatnya untuk mengekspresikan diri, Rifa ingin terus mengembangkan kemampuannya di dunia kepenulisan. Ia bahkan berencana menggabungkan dua hal yang ia sukai, yaitu sejarah dan fiksi untuk menjadi karya yang ingin ia garap.
(DYA, NYH)









Leave a Reply